-

Selasa, 26 Oktober 2010

Bisakah Payudara Diperbesar Tanpa Operasi?

Perempuan yang ingin punya payudara besar kebanyakan menempuh jalur bedah operasi. Benarkah tidak ada cara alami untuk memperbesar payudara selain melakukan operasi?

Kebanyakan perempuan memiliki ukuran payudara yang berfluktuasi selama hidupnya. Hal ini karena terjadi perubahan selama hidupnya seperti pubertas dan kehamilan.

Memang diakui para ahli sulit memperbesar payudara secara alami tanpa bantuan implan atau operasi plastik lainnya. Namun ada beberapa cara seperti memperkuat otot dada yang membuat payudara terlihat agak penuh.

Seperti dilansir Ehow, Selasa (26/10/2010), beberapa cara yang dapat dilakukan di bawah ini hanya sedikit meningkatkan ukuran dan bentuk payudara, seperti:

1. Latihan otot-otot dada

Latihan yang bekerja pada otot dada dapat meningkatkan ukuran payudara dengan meningkatkan ukuran otot pendukungnya, sehingga tampak lebih besar.

Contoh latihan otot dada antara lain latihan tekanan, yaitu dengan berdiri tegak menghadap dinding, bersandar dengan tangan dan tekan dinding sekuat mungkin. Selain itu juga bisa dengan gerakan push up.

2. Latihan perut, punggung dan otot bahu
Latihan yang memperkecil perut, punggung dan otot bahu dapat membuat payudara tampak lebih busung dan naik. Latihan ini tidak akan mendapat manfaat langsung ke payudara, namun bisa membantu payudara terlihat lebih besar dengan memberikan dukungan dan melangsingkan daerah sekitar payudara.

Contoh latihan ini adalah sit up, berjalan cepat, jogging, berenang, tenis, bersepeda dan juga hiking.

3. Konsumsi produk kedelai

Kedelai mengandung hormon yang disebut phytoestrogen, yang diketahui dapat membantu meningkatkan ukuran payudara dengan aman. Kedelai dapat memberikan alternatif yang aman dan sehat untuk terapi hormon. Produk-produk ini sering direkomendasikan untuk perempuan yang akan mengalami menopause.

4. Pijat payudara

Melakukan pijat secara teratur bisa meningkatkan ukuran payudara. Hal ini karena pijat memiliki kemampuan untuk merangsang aliran darah ke daerah tersebut.

Beda Rematik dan Nyeri Biasa

rematik.jpg (225×221)

Banyak orang yang mengira bahwa setiap ada nyeri di sendi berarti orang tersebut menderita rematik. Padahal tidak semua nyeri sendi adalah rematik. Lantas apa bedanya nyeri sendi biasa dan nyeri rematik?

Sebenarnya cukup banyak pertanda untuk membedakan nyeri biasa dan rematik. Dilansir Wrongdiagnosis, Selasa (26/10/2010), berikut perbedaan gejala antara nyeri sendi biasa dan rematik:

Nyeri sendi biasa
Ada sensasi tidak nyaman, ada peradangan, nyeri atau kekakuan pada sendi atau sendi tubuh.
Gejalanya sementara atau pendek lalu bisa hilang cepat
Kejadian sewaktu-waktu
Penyebab biasanya karena terlalu lama dalam posisi duduk, berdiri atau lama tidak bergerak.

Contoh nyeri sendi biasa misalnya kekakuan ringan setelah duduk di pesawat selama penerbangan yang panjang dan kemudian akan sembuh setelah mendarat dan kembali bergerak.

Rematik
Gejalanya meliputi peradangan dan hilangnya fleksibilitas sendi, demam, sendi bengkak, memar, kemerahan dan terasa panas, serta mudah kelelahan dan lemah seperti gejala flu.
Terjadi terus menerus atau lama dan berulang-ulang
Bisa menjadi penyakit seumur hidup
Tulang rawan di sekitar sendi menipis dan membentuk tulang baru
Pada saat tubuh digerakkan, tulang-tulang di persendian bersinggungan sehingga memicu rasa nyeri.
Penderita rematik sering mengalami gejala nyeri setelah beraktivitas atau saat cuaca berubah dari panas ke dingin.

Sendi adalah ruang atau daerah tempat dua atau lebih tulang bertemu. Nyeri sendi meliputi gejala penyakit ringan sampai parah. Nyeri sendi dapat disebabkan oleh infeksi, trauma, keganasan, penyakit autoimun dan proses abnormal lainnya.

Nyeri sendi dapat menunjukkan kondisi yang relatif jinak seperti keseleo ringan atau kondisi moderat seperti bursitis, ankylosing spondylitis, keseleo ligamen moderat dan dislokasi.

Penderita rematik adalah penyakit yang serius dan merupakan penyakit autoimun. Untuk mendiagnosa rematik perlu dilakukan beberapa tindakan, antara lain mengambil riwayat kesehatan menyeluruh, termasuk gejala dan pemeriksaan fisik lengkap.

Tes fisik yang dilakukan adalah tes faktor rematik seperti tes darah lengkap, protein C-reaktif, tingkat sedimentasi eritrosit, tes sinar-X dan analisis cairan 'pelumas' sendi yaitu cairan sinovial.

Rematik tergolong yang serius karena tidak dapat disembuhkan. Apabila seseorang didiagnosa dengan rematik, maka ia akan seumur hidup menderita rematik. Pengobatan yang ada saat ini hanya dapat membantu mengurangi gejala dan menunda kehancuran sendi.